FOTO BERSAMA: Asatidz SMA U Haf-Sa mengabadikan moment bersejarah pada banner berukuran besar yang disediakan panitia.

KHIDMAT: Tampak seluruh peserta upacara hormat pada sang saka merah putih yang dikibarkan.

ABADIKAN MOMENT BERSEJARAH, DEWAN ASATIDZ FOTO BERSAMA

Genggong– Dewan asatidz dan siswa-siswi SMA Unggulan (SMAU) Haf-Sa Zainul Hasan Genggong terlihat antusias mengikuti rangkaian pengibaran sang saka merah putih dalam rangka HUT RI ke-72 yang diselenggarakan Pesantren Zainul Hasan Genggong. Kamis, (17/08/2017) di lapangan P5 bersama seluruh lembaga dari Sekolah dasar hingga perguruan tinggi di bawah yayasan Zainul Hasan dan Hafshawaty Genggong.

Sebagian besar asatidz berangkat dari SMAU ke lapangan P5, ada pula yang langsung ke lokasi acara. Dewan asatidz yang menggunakan seragam putih-hitam berdasi ini membaur dengan dewan asatidz dari lembaga lain. Tampak hadir ditengah-tengah hadirin, KH. Moh. Hasan Naufal, Nun Hassan Ahsan Malik, Nun Ahsan Qomaruzzaman, Nun Moh. Baiduri Faishal, Gus Achmad Syamsul Askandar, Kepala Biro Pendidikan Pesantren Zainul Hasan, Dr. Abdul Aziz Wahab, M.Ag.

Segenap santri SMAU yang berseragam batik khas kombinasi celana dongker ini menempati posisi yang telah ditentukan pihak panitia di bagian tengah bersebelahan dengan santri dari SMA Zaha dan SMK Zaha. Semua santri ini mengahadap ke timur sesuai nama sekolah dan madrasah yang telah ditentukan pihak panitia.

Upacara bendera ini diiringi drum band siswa-siswi SD ZAHA yang menggunakan kostum biru langi kombinasi putih dan pink, membuat uapaca bendera terasa meriah. Saat sirene dibunyikan sebagai penanda detik-detik Proklamasi dibacakan oleh KH. Moh. Hasan Naufal suasana hening mulai terasa. Saat lagu Indonesia raya dinyanyikan mengiringi sang saka merah putih dikibarkan upacara sangat terasa sakral dan khidmat.

Pembina upacara, Nun Hassan Ahsan Malik saat ditemui seusai upacara mengatakan, momentum upacara bendera ini sangat terasa getaran-getaran perjuangan para pejuang bangsa ini di hatinya. Beliau mengaku sangat terinspirasi dengan upacara ini. Baginya, para pemuda anak bangsa wajib mengenang para pejuang yang telah mengorbankan jiwa ragnya. “Tanpa pengorbanannya, kita tidak akan merasakan kemerdekaan ini,” akunya.

Seusai acara segenap dewan asatidz dan santri dari berbagai lembaga menikmati atraksi PBB (Pasukan Baris Berbaris) yang diperagakan siswa dari  seluruh lembaga. Para asatidz ini tidak langsung pulang. Mereka menyempatkan berfoto pada banner yang disediakan pihak panitia. “Alhamdulillah, bisa mengabadikan moment bersejarah ini bersama guru-guru Unggulan,” ungkap salah satu ustadz SMAU yang tidak mau disebutkan namanya. (Mfd/Bdr)